Lain Dulu Lain Sekarang

Era digital menjadikan dunia tempat kita tinggal semakin sempit


Tuntutan jaman yang semakin dinamis seiring dengan perkembangan teknologi internet telah menghadirkan era digital. Sebuah era dimana setiap belahan dunia dapat saling terhubung tanpa terkendala jarak. Kehadiran era digital menjadikan proses pengasuhan tumbuh kembang putra putri kita semakin rumit. Karena kini mereka tidak hanya tumbuh di lingkungan keluarga, kompleks perumahan, maupun sekolah, melainkan juga dunia maya.

Jika kita perhatikan dengan seksama, pola hidup anak sekarang selalu dikelilingi gadget sehingga waktu bermain bebas berkurang. Kita sebagai orang tua tentu merasa lega karena putra putri kita lebih sering berada di rumah. Karena beragam kesibukan dan perasaan aman anak berada dirumah, kita jarang memantau kegiatan anak selama berinternet. Tanpa kita sadari, putra putri kita sebenarnya justru lebih mudah terekspos hal-hal negatif lewat internet. Konten Pornografi, Cyber Bullying, SARA, Perjudian, dan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kita sebagai orang timur, mudah sekali dijumpai di internet.

Diawali tidak suka, menjadi biasa, kemudian terbiasa, lalu suka, hingga akhirnya kecanduan adalah wajar. Demikian halnya dengan paparan konten internet negatif dalam jumlah dan intensitas yang berlebihan dapat merusak kualitas pribadi sebaik apapun. Dampak kecanduan pornografi tentu sudah sering kita jumpai di berbagai pemberitaan terkait kejahatan seksual. Kasusnya beragam dan memprihatinkan, mulai dari guru kepada siswa, orang tua kepada anak, hingga anak dengan teman sebaya. Para pelaku mengaku bahwa tindakan mereka disebabkan oleh seringnya menonton tayangan pornografi.

Hasil penelitian Semai2045.org mencatat:

  1. 93 dari 100 anak SD telah mengakses pornografi
  2. 63 dari 100 remaja telah berhubungan seks di luar nikah
  3. 21 dari 100 remaja melakukan aborsi
  4. 5 dari 100 remaja mengidap penyakit seksual menular
  5. Kasus perkosaan di 34 propinsi
  6. Kasus incest di 23 propinsi
  7. Kekerasan seksual di sekolah terjadi di 19 propinsi

Angka di atas diprediksi akan semakin tinggi seiring jumlah pengguna internet yang terus meningkat dari tahun ke tahun.


Sumber: Semai2045.org

Pornografi adalah industri perusak kepribadian yang tersamarkan dan terorganisir dengan sangat baik. Targetnya adalah kita, dan putra-putri kita terutama, supaya menjadi pelanggannya seumur hidup. Konten didalamnya dirancang khusus oleh para ahli syaraf, psikolog, dan pemasaran untuk memancing kita supaya terjerumus ke dalamnya.

30 tahun dari sekarang, berdasarkan data BPS tahun 2011, jumlah penduduk Indonesia usia 32 – 51 tahun berjumlah 90 juta jiwa. Merekalah Generasi Emas Indonesia. Merekalah yang akan mengisi semua posisi pemimpin di negeri ini. Mulai dari guru, polisi, tentara, petani, pengusaha, birokrat, pedagang, peneliti, anggota legislatif, sampai Presiden. Jika mereka berkualitas, dapat dipastikan masa depan mereka dan negeri ini akan baik. Sebaliknya jika mereka lemah, dapat dipastikan juga masa depan mereka dan negeri ini akan hancur.

Jika kamu ingin menghancurkan suatu bangsa tanpa perang, jadikan perzinaan dan ketelanjangan sebagai sesuatu yang wajar bagi generasi penerusnya.

Salahuddin Ayyubi



Akankah kita tetap berdiam diri?

JIKA BUKAN KITA YANG BERTINDAK, SIAPA LAGI?

JIKA BUKAN SEKARANG, MAU KAPAN LAGI?

DEMI SIAPA? DEMI PUTRA PUTRI KITA DAN GENERASI YANG AKAN KITA TINGGALKAN!!


Anak adalah amanat yang kita terima dalam kondisi baik sehingga wajib kita kembalikan dalam kondisi baik pula. Sudah tepatkah pola asuh yang kita terapkan saat ini? Akan cukupkah bekal putra putri kita untuk mengarungi bahtera kehidupan ketika dewasa nanti? Sudah siapkah kita ketika dimintai pertanggung jawaban atas hasil didikan kita kelak setelah mati?

Mari bersama kita bentengi putra putri kita dari bahaya Pornografi, Cyber Bullying, SARA, Perjudian, dan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kita sebagai orang timur SEKARANG JUGA!!.

Apa yang dapat kami lakukan untuk membantu Anda?

Kami telah menciptakan solusi praktis untuk menangkal konten negatif di internet dan ...

Back To Top